#BincangKeluarga, Cerita Bunda, Kids, Tips

Sebelum Membelikan Mainan Anak, Saya Punya Kriteria Ini

mainan anak

Mbak Rosa ngajakin nulis tentang kriteria saat membelikan mainan anak. Saya sih hayo aja. Apalagi sudah mulai jarang ada ide buat Celoteh Bunda huhu. Meski sejujurnya, saya dan suami sudah jarang banget beliin mainan buat anak-anak 🙈 Ya habis mainan mereka masih banyak. Apalagi saya masih punya stock mainan yang belum dikeluarkan karena nunggu anak-anak lebih mengerti dulu.

Saya juga pernah baca artikel Mbak Noni Rosliyani yang juga seorang blogger. Beliau menulis tentang penelitian yang mengatakan kalau anak yang jarang dibelikan mainan itu justru lebih mengasah kreativitas anak, karena anak akan memanfaatkan mainan-mainan yang sudah ada 😍 Baca di postingan Punya Mainan Banyak Tidak Baik untuk Anak ya.

Eh emang benar lho ternyata. Jadi mainan-mainan yang sudah ada itu kadang sama anak-anak dipakai dengan cara yang tidak seharusnya. Misalnya mobil-mobilan disusun memanjang jadi seperti kereta. Terus donat susun dijadikan alas yang ditaruh bola di atasnya. Atau block ditaruh miniatur hewan di atasnya. Ya gitu-gitu deh. Kreatif bener emang haha. Kalau lagi bosan, mainan apa aja yang ada di rumah. Ya plastik, mangkuk, piring, sendok, baskom, sesuka mereka sajalah.

via GIPHY

Jadi, apa saya sudah tidak ingin membelikan mainan lagi? Sebelumnya boleh baca punya Mbak Rosa dulu ya.

Kriteria Mainan Anak

Bukan ibu yang rajin DIY mainan anak

Tentu saja saya masih punya rencana untuk membelikan mereka mainan lagi. Habis saya bukan tipe ibu yang rajin bikin mainan untuk anaknya macam ibu-ibu ala montessori itu. Saya juga sudah pernah cerita kan kalau dulu pernah bikin tapi nggak konsisten melanjutkan karena kok ya males bangeeeet 😩 Baca ceritanya di Montessori dan Realita yang Terjadi.

Makanya, saya mending beli aja deh 🙈 Buat saya beli justru lebih murah dan nggak ribet 🙈 DIY itu sebetulnya bisa murah juga. Cuma tetap tergantung apa bahan-bahannya. Yang jelas kalau DIY mahal di waktu dan kreativitas sih 😅 Mungkin sayanya aja yang memang malas menyediakan waktu buat bebikinan *duh 🙈

via GIPHY

Kriteria membelikan mainan anak

Ya udahlah ya. So, apa saja kriteria saya sebelum membelikan mainan anak?

1. Mengedukasi

Sebisa mungkin saya ingin membelikan mainan anak-anak yang mengedukasi. Kayak block, puzzle, balok, miniatur hewan, flashcard, dan sebagainya. Pokoknya yang bisa sekalian dipakai untuk belajar. Biar sayanya sebagai orang tua juga nggak garing. Dengan mainan yang mengedukasi kan otomatis peran saya jadi beneran ada karena sembari mengajarkan anak. Main puzzle itu gimana caranya. Flashcard ini gambar apa. Ini hewan apa. Semacam itu.

2. Murah

Saya bukan orang tua yang royal juga. Nggak belikan anak mainan setiap saat atau setiap bulan. Dan dari segi harga pun selama masih ada yang lebih murah, saya akan lebih milih yang murah. Kalau ada uangnya, saya pilih mainan yang materialnya lebih bagusan.

Makanya saya cenderung lebih suka beli mainan secara online. Pertama, nggak ribet. Kedua, mau membandingkan harga dari satu toko ke toko lain biasanya lebih mudah karena cuma pencet-pencet hape aja kan. Ketiga, saya bisa cari referensi juga apakah mainan tersebut harganya cukup worth it atau tidak berdasarkan review para orang tua lain yang sudah membelikan anaknya mainan tersebut.

via GIPHY

3. Mainan yang disukai anak

Karena Emir sudah 3 tahun dan adiknya sudah mau 2 tahun, jadi mereka sudah bisa milih. Kalau memang lagi ke toko mainan gitu, kita tanya mau mainan yang mana. Biasanya juga diskusi sih. Misalnya kita arahkan, “Yang ini aja Kak, lebih bagus. Tuh warnanya biru.” Kalau Emir mau ya ambil, tapi kalau maunya yang lain ya kita turutin.

Kadang mereka juga maunya random. Kayak mobil-mobilan, pesawat-pesawatan. Ya udah semau mereka aja. Soalnya kalau apa yang mereka mau, biasanya mereka lebih antusias buat maininnya.

4. Review orang tua lain

Nggak dipungkiri, terkadang saya juga cukup terpengaruh review dari orang tua lain. Kayak misalnya flashcard. Banyak sekali orang tua yang merekomendasikan. Akhirnya saya beli. Dan memang berguna banget. Anak-anak jadi cepat tahu nama-nama hewan, benda, huruf, angka, dan sebagainya.

Tapi saya juga tetap menyaring dulu apakah mainan tersebut memang pas untuk usia anak-anak saya atau tidak. Kalau misalnya belum, tapi saya kepengen beli, ya beli aja. Dikeluarkannya nanti pas usia anak-anak sudah pas hehe. Tapi kalau memang saya merasa belum butuh, ya belinya nanti-nanti aja.

via GIPHY

Peran orang tua untuk bermain bersama anak

Apalagi ya, udah sih kayaknya 4 aja kriterianya. Saya memang nggak terlalu muluk-muluk menetapkan kriteria membelikan mainan anak.

Buat saya sih yang penting anak suka. Dan yang lebih terpenting lagi adalah peran kitanya sebagai orang tua. Ya percuma juga kalau sering belikan mainan, tapi kitanya aja malas menemani anak bermain. Padahal anak-anak itu masih butuh bimbingan. Minimal diajarkan dulu cara mainnya seperti apa supaya anak mengerti.

via GIPHY

Jujur, dibanding mainan, saya lebih sering belikan anak-anak buku. Sebab saya sudah merasakan sendiri manfaat buku buat anak-anak. Pertama, anak-anak lebih mudah belajar kalau lewat cerita. Anak-anak juga lebih terasah sensorinya dengan melihat warna-warni di dalam buku. Selain itu, anak-anak tidak hanya mampu belajar tentang ilmu pengetahuan dari buku, tapi juga bisa belajar agama seperti akhlak dan bacaan doa sehari-hari.

Dan yang selalu saya ulang-ulang, sebetulnya yang dibutuhkan anak memang kehadiran orang tuanya. Tanpa mainan pun selama orang tuanya hadir, anak pasti sudah senang. Bisa main kuda-kudaan, ayun-ayun di kaki, atau menyanyi dan menari bersama 😃

Kalau Ayah Bunda, apa nih kriterianya sebelum membelikan mainan anak? Cerita yuk 😃

Tagged , , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

2 thoughts on “Sebelum Membelikan Mainan Anak, Saya Punya Kriteria Ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.