Cerita Bunda, Kehamilan, Melahirkan

Proses Melahirkan Anak Ketiga yang Cukup Panjang

Setelah cerita gimana perjalanan hamil anak ketiga, kali ini saya mau cerita proses melahirkannya. Proses yang benar-benar beda banget dari kakak-kakaknya.

Dan saya nggak nyangka, kalau ternyata dalam hidup, saya harus menjalani transfusi darah untuk pertama kalinya (dan semoga jadi yang terakhir! Aamiin).

HB rendah saat hamil

Waktu bulan September saya harus periksa di puskesmas karena mau vaksin Covid-19. Nah di Surabaya ini, ibu-ibu hamil didata dan diharuskan untuk menjalani pemeriksaan keseluruhan. Jadi bukan cuma periksa kandungan, tapi juga diharuskan untuk periksa ke poli gizi, gigi, umum, bahkan sampai ke psikolog. Dan yang paling penting adalah periksa lab keseluruhan.

Dari lab itulah ketahuan kalau hemoglobin (HB) saya hanya 8,9.

Karena rendah sekali, maka saya dianjurkan untuk pakai BPJS oleh puskesmas dan dibuat surat rujukan ke rumah sakit faskes 2. Padahal saya dan suami niat awalnya mau lahiran pakai umum saja alias bayar sendiri.

Memasuki bulan Oktober, karena sudah mendekati tanggal melahirkan, dan saya nggak mau dioperasi, pun takut kalau perdarahan setelah melahirkan, saya maksa diri buat minum jus buah bit.

Nyaris setiap hari, suami rela bikinin istrinya jus bit demi meningkatkan HB saya. Rasanya? Jelas nggak enak! Tapi lebih nggak enak kalau saya kenapa-napa pas melahirkan. Naudzubillah.

Singkat cerita, saya dan suami akhirnya mutusin, oke kita coba pakai BPJS saja. Supaya prosesnya mudah dan biayanya juga lebih murah hehe.

Kami pun pindah tempat periksa. Yang tadinya di dokter kandungan langganan di kliniknya, kami pindah periksa ke rumah sakit tempat saya akan melahirkan dengan BPJS.

Pertama kali periksa ke rumah sakit, saya langsung disuruh lab lagi. Ndilalah kok HB nya malah turun lagi jadi 7,9!

Tanggal 14 Oktober, periksa darah terakhir kali

Makin dekat ke Hari Perkiraan Lahir tanggal 26 Oktober, dokter nggak bisa kasih saya obat oral, karena waktunya sudah mepet. Mau tidak mau, saya harus opname untuk transfusi sebelum melahirkan. Karena HB untuk melahirkan itu minimal 10. Saya sedih banget. Rasanya berat kalau sampai harus transfusi.

Masih penasaran, tanggal 14 Oktober setelah saya pulang dari rumah sakit, saya dan suami mutusin untuk ke lab di luar. Pikir kami, siapa tahu HB nya ada peningkatan dari seminggu sebelumnya. Eeh, tahu-tahu ternyata hasilnya HB saya malah 7,5!

Saya drop banget. Beneran sedih masa sih saya harus transfusi? 🙁 Dan herannya buah bit yang biasanya ngefek ningkatin HB saya, kali ini malah tidak mempan sama sekali. Nggak tahu deh salahnya di mana wkwk.

Finally apa mau dikata, suami terus menenangkan saya. Memberi sugesti bahwa its ok kalau memang harus transfusi. Yang penting ibu dan bayi selamat. Dan keinginan saya untuk melahirkan spontan (pervaginam) tetap berjalan lancar.

Tanggal 15 Oktober kami pun ke UGD rumah sakit untuk minta transfusi.

Tanggal 15 Oktober, tahu-tahu sudah bukaan 2

Setelah dicek dan diperiksa detak jantung bayi, saya dicek bukaan. Tahu-tahu bidan bilang sudah bukaan 2! Ya memang sih malamnya saya merasa sakit-sakit kontraksi. Cuma saya pikir itu kontraksi palsu seperti biasanya.

Waduh saya jadi berpacu dengan waktu. Karena harus transfusi dulu untuk menambah darah sebelum melahirkan. Saya pun sounding si adik untuk jangan keluar dulu hehe.

Karena kami datang ke UGD sudah sore, dan persediaan darah baru ketahuan ada setelah malam, diputuskan untuk transfusi esok paginya.

transfusi darah

Jam 5 pagi, saya sudah mulai transfusi. Karena HB nya cuma 7,5 jadi diputuskan coba 2 kantong dulu. Minimal hasil HB akhirnya 9 sudah cukup.

Tanggal 16 Oktober, harus diinduksi

Oh iya, karena dokter di rumah sakit menganggap kalau HPL saya mengikuti Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT tanggal 6 Januari 2021) yakni 14 Oktober 2021, maka dokter menganggap usia kandungan saya saat itu sudah 40 minggu. Padahal kalau di dokter kandungan saya sebelumnya HPL itu mengikuti USG pertama, yakni 26 Oktober 2021. Jadi HPHT sudah tidak berlaku.

Tapi ya sudahlah saya pasrah saja. Makanya, dokter rumah sakit bilang kalau habis transfusi, saya harus diinduksi supaya ada bukaan. Huhu ini pertama kalinya juga saya harus induksi (dan semoga yang terakhir! Aamiin).

Jam 2 siang, transfusi selesai dan hasilnya dirasa cukup. Saya pun langsung dibawa ke ruang tindakan bersalin. Kalau misalnya setelah transfusi bukaan saya nambah, sebenarnya tidak perlu induksi. Sayangnya, setelah semalaman di rumah sakit pun bukaan saya tetap di angka 2.

induksi lahiran

Maka diputuskanlah untuk induksi hiks. Saya kira induksi itu disuntik, ternyata dimasukkan cairan semacam infus gitu ya hehe. Dan jalannya cairan pun lama. Jadi saya banyakkin sholawat biar induksinya cuma 1 botol aja. Biar sakitnya juga wajar-wajar aja.

Detik-detik melahirkan

Jam setengah 3 sore, saya sudah mulai merasakan kontraksi yang sakit banget. Tapi pas dicek, ternyata bukaan masih nyaris 3.

Makin sore, makin sakit. Sampai jam 5 sore akhirnya saya sudah nggak kuat. Dicek masih bukaan 7. Tapi saya benar-benar nggak kuat buat nggak ngeden. Padahal dibilang bidannya nggak boleh ngeden dulu. Ndilalah, karena ngeden saya terlalu kuat kali ya, suami sampai teriak, “KEPALA KELUAR KEPALA KELUAR!”

4 bidan pun berdatangan. Wah hebohlah pokoknya. Segala intruksi kayaknya cuma jadi bayangan buat saya saking saya fokus banget ngeden. Karena beneran sesakit itu.

Jam 17.08 Alhamdulillah bayi perempuan kami lahir juga. Meski dengan kondisi masih terselimuti ketuban, sempat tidak nangis sebentar, kondisinya juga biru dan bayinya pup, tapi Alhamdulillah saya dan bayi selamat.

Hanya saya tidak sempat Inisiasi Menyusui Dini karena bayinya langsung dipisahkan dari saya untuk diobservasi lebih dulu.

Lama di rumah sakit

Cukup lama kami di rumah sakit. Karena sebenarnya saya sudah boleh pulang hari Minggunya. Tapi saya nggak tega ninggalin bayi sendirian. Kasihan juga kalau suami harus bolak-balik ke rumah sakit untuk antar ASIP.

Akhirnya kami putuskan untuk extend sampai bayi benar-benar boleh pulang. Untunglah kami bisa naik kelas ke VIP, jadi menunggunya pun nyaman. Dan yang paling penting, bayinya juga boleh rawat gabung dengan kami. Jadi saya bisa tetap lancar menyusui bayi.

Hari Selasa siang, barulah kami benar-benar boleh pulang. Dengan kondisi berat bayi 2,3 turun sedikit dari berat lahirnya yang cuma 2,4. Tapi Alhamdulillah kondisi semuanya sudah bagus.

Proses hamil dan melahirkan yang panjang

Terakhir kontrol tanggal 23 Oktober kemarin, bayi perempuan yang kami beri nama Emica, beratnya sudah 2,56. Alhamdulillah. So far Emica sehat. Menyusuinya juga lancar. Sama sekali nggak ada hambatan. Semoga ke depan, beratnya bisa naik terus. Aamiin.

Yah, begitulah hamil dan melahirkan dengan segala perjuangannya. Cukup panjang. Tapi Alhamdulillah semua terlewati juga dengan lancar, sehat dan selamat. Menantang tapi sekaligus menyenangkan pada akhirnya. Alhamdulillah 😀

Tagged , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

6 thoughts on “Proses Melahirkan Anak Ketiga yang Cukup Panjang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.