Inner Child, Parenting

Membangun Kesadaran Membuat Kita Lebih Tenang

menyadari inner child

Mungkin teman-teman sudah baca postingan saya tentang Inner Child Therapy dan Pendamping Inner Child. Maafkan jika postingan saya akhir-akhir ini akan selalu berhubungan dengan inner child ya. Karena sekarang saya memang masih dalam bimbingan Ruang Pulih untuk menyelesaikan masalah inner child.

Sadar past be the past

Dari sekian 5 webinar dengan berbagai narasumber ini, saya bisa mengambil garis besar bahwa sebenarnya yang kita perlukan “hanyalah” kita bisa SADAR. Menyadari bahwa apa yang terjadi di masa lalu, itu sudah lewat. Past be the past. 

Segala perlakuan orang tua di masa kecil, bahkan mungkin sejak kita ada di dalam kandungan adalah SEBUAH PERISTIWA yang memang terjadi di saat itu. Dan itulah yang tidak bisa kita ubah di masa kini.

Maka saya sangat tertarik ketika bu Naftalia Kusumawardhani di webinar keempat berkata, “Pemaafan itu sesungguhnya adalah tahap terakhir. Hal yang pertama adalah menerima. Menerima PERISTIWANYA. Peristiwa bahwa itu memang terjadi dalam hidup kita.”

Dan penerimaan itu bisa terjadi, manakala kita bisa MENYADARI bahwa kita sudah hidup di saat ini dan di sini. Dan SADAR bahwa kita tidak lagi punya kendali atas masa yang sudah berlalu.

Menerima peristiwa, BUKAN menerima perilaku

Apakah lantas kita menyetujui sikap dan perilaku keliru orang tua kita? TIDAK.

Yang kita terima adalah PERISTIWANYA. Kita menerima bahwa itu sudah terjadi dalam hidup kita. Meskipun prosesnya sendiri pun mungkin tidak mudah.

Tapi dengan tekad kuat membangun kesadaran bahwa kita sudah hidup di saat ini, bukan hal yang mustahil jika perlahan-lahan kita bisa bangkit.

Setelah menerima, kita bisa MENGAKUI PERASAANNYA. Oh oke aku marah, aku sedih, aku kecewa.

Apa yang dibutuhkan ketika seseorang sedang merasakan emosi yang tidak menyenangkan? Adalah seperti buku Luka, Performa, Bahagia yang ditulis Mbak Intan Maria Lie dan Mas Adi Prayuda, kita bisa me-reparenting inner child itu dengan memberinya rasa aman. Rasa aman inilah yang bisa kita berikan pada diri sendiri. Berdamai dengannya, dan memeluknya.

Sadar bahwa kita hidup di sini dan saat ini

Memang beda ketika kita bisa mindful, sadar penuh bahwa kita tidak lagi hidup di masa lalu. Sebab akhirnya kita paham, bahwa kita sebenarnya punya kendali atas hidup kita yang sekarang.

Ini yang dikatakan psikolog saya, “Mbak Ade, Mbak Ade sekarang sudah di sini. Sudah jauh dari orang tua. Mbak Ade sekarang berhak menentukan hidup Mbak Ade sendiri.”

Iya ya, saya kan sudah bukan lagi anak kecil. Saya sudah berumah tangga. Sekarang saya bisa menjadi diri saya sendiri. Menjadi apa yang saya mau. Bahkan saya bisa menentukan tujuan hidup saya sendiri.

Bahkan Pak Anthony Dio Martin mengingatkan, “Hidup terlalu berharga jika dibelenggu masa lalu.”  Dan parahnya, jika masa lalu belum selesai, itu hanya akan merampok masa depan kita.

Padahal, hidup ini sungguh tidak statis. Setiap kita pasti akan selalu menghadapi masalah. Maka kesadaran inilah yang bisa menenangkan kita.

Saya tidak akan seperti sekarang, jika tidak ada masa lalu

Kalau mau jujur, saya pun sering berkata pada diri sendiri, “Dulu mungkin saya dipatahkan, tapi sekarang saya kan punya motivator terbaik, yaitu suami. Toh beliau selalu mendukung saya. Mau menerima saya. Dan selalu yakin bahwa saya pasti bisa.”

Oke saya kecewa, karena dulu saya dipatahkan. Sehingga membuat saya tidak mudah percaya diri, bahkan seringkali merasa rendah diri. Tapi itu karena orang tua saya tidak tahu.

Dan kalaupun saat itu saya tidak mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, saya yakin garis hidup saya pun akan berubah semua. Mungkin saya tidak menikah dengan suami, mungkin saya tidak akan sekuat sekarang, atau jangan-jangan mungkin saya masih sendiri, karena toh saya punya pribadi yang kuat dan mandiri.

Kesadaran bahwa saya masih bisa berdiri dan masih BISA menentukan arah hidup, membuat saya lebih mudah untuk berpikir jernih. Karena akhirnya saya bisa memberi makna dan sudut pandang yang berbeda.

Sikap saya ke orang tua pun jadi lebih respect. Saya tidak lagi melihat orang tua sebagai masa lalu dan sikap kurang menyenangkannya, tapi saya justru lebih ingin melindunginya. Dengan menghormatinya, dengan menyayanginya. Jika pun masih ada perbedaan pendapat, saya bisa menyampaikannya dengan cara yang lebih tenang. Lebih ahsan dan tidak menyakitinya.

Saya harus menghargai dan bangga pada diri sendiri

Saya tidak bilang ini semua mudah. Bahkan sudah 6 tahun pernikahan pun, rasanya saya masih terseok-seok. Tapi lagi-lagi saya harus menghargai diri sendiri. Karena saya mau menyadari bahwa ada masalah dalam diri saya yang harus diselesaikan.

Dan saya harus bangga, bahwa saya mau berproses. Saya masih bisa kena trigger, tapi setidaknya itu tidak terjadi setiap waktu. Sekarang saya merasa bisa lebih tenang dari sebelum-sebelumnya.

Dan ketika saya bisa sadar penuh, saya justru bisa memeluk anak-anak, bahkan menenangkan dan memeluk diri sendiri dengan sepenuh hati.

Tagged , , , , , , , , , ,

About Ade Delina Putri

Blogger, Bookish, Stay at Home Mom Keep smile, keep spirit, positive thinking ^^
View all posts by Ade Delina Putri →

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.